Minggu, 16 Januari 2011

| by Ananda Munkz Ariez

0

JIWA (An-Nafs)

Ibnu Maskawaih seorang filosuf Islam mengatakan bahwa jiwa berasal dari limpahan akal aktif yang bersifat rohani, suatu substansi yang sederhana dan tidak dapat di raba oleh salah satu panca indera...

Jiwa tidak bersifat material di buktikan oleh maskawaih dengan adanya kemungkinanan jiwa yang dapat menerima gambaran-gambaran tentang banyak hal yang bertetangan satu sama lain,,, misalnya, jiwa dapat menerima gambaran tentang konsep putih maopun hitam dalam waktu yang sama, sedangakan materi hanya dapat menerima dalam satu waktu putih atau hitam saja, jiwa dapat menerima gambaran segala sesuatu baik yang indrawi maopun yang spiritual...

Daya pengenalan dan kemampuan jiwa lebih jauh jangkauannya di banding daya pengenalan dan kemampuan materi , bahkan dunia materi semuanya tak akan sanggup memberi kepuasan terhadap jiwa, karena hal-hal spiritual juga menjadi kerinduan jiwa...
Lebih dari itu, di dalam jiwa terdapat daya pengenalan akal yang tak di dahului dengan pengenalan indrawi, Dengan daya pengenalan akal itu jiwa mampu membedakan antara yang benar dan yang tidak benar berkaitan denagan hal-hal yang di peroleh pancaindera,,,
dengan demikian jiwa bertindak sebagai pembimbing pancaindera...

Kesatuan aqliah jiwa tercermin secara amat jelas, yaitu bahwa jiwa itu mengetahui dirinya sendiri, dan mengetahui bahwa ia mengetahui dirinya... Dengan demikian jiwa merupakan kesatuan yang di dalamnya terkumpul unsur-unsur akal, subyek yang berfikir dan obyek-obyek yang di fikirkan, dan ketiga-tiganya merupakan sesuatu yang satu...

Maskawaih menonjolkan kelebihan jiwa manusia atas jiwa binatang dengan adanya kekuatan berfikir yang menjadi sumber pertibangan tingkah laku, yang selalu mengarah kepada kebaikan...
Menurut maskawaih pula, jiwa manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingakt-tingakat, Dari tingakat yang paling rendah di sebutkan urutannya sebagai berikut:

a) An-Nafs al-bahimiyah (nafsu kebinatangan) yang buruk

b) An-Nafs al-sabu’iyah (nafsu binatang buas) yang sedang

c) An-Nafs an-nathiqah ( jiwa yang cerdas) yang baik

Manusia bisa menjadi manusia yang sebenarnya jika memiliki jiwa yang cerdas, dengan memiliki jiwa yang cerdas itu, manusia terangkat derajatnya, setingkat malaikat, dan dengan jiwa yang cerdas itu pula di bedakan dari binatang...

Manusia yang paling mulia adalah yang paling besar kadar jiwa cerdasnya, dan dalam hidupnya selalu cendrung mengikuti ajakan jiwa yang cerdas itu. Manusia yang hidupnya di kuasai oleh ke dua macam jiwa lainnya (kebinatangan dan binatang buas) maka turunlah derajatnya dari derajat kemanusiaan. Mana yang lebih dominan di antara dua macam jiwa yang lain selain jiwa yang cerdas tadi, maka demikianlah kadar turun derajat kemanusiaannya...

Manusia harus pandai menentukan pilihan untuk menundukan dirinya dalam derajat yang mana seharusnya...

Sehubungan dengan kualitas dari tingkatan-tingkatan jiwa yang tiga macam tersebut, maskawaih mengatakan bahwa jiwa yang rendah atau buruk (an-nafs al-bahimiyah, nafsu kebinatangan) mempunyai sifat-sifat ujub (pongah), sombong, pengolok-olok, penipu, dan hina dina. Sedangkan jiwa yang cerdas (an-nafs an-nathiqah) mempunyai sifat-sifat adil , harga diri, berani pemurah benar dan cinta...


0 komentar:

Posting Komentar